TIPE DIABETES MELITUS
Diabetes melitus tipe 1
Diabetes mellitus tipe 1 adalah diabetes pada anak-anak ( childhood-onset diabetes, juvenile diabetes,
insulin-dependent diabetes mellitus, IDDM) yaitu diabetes yang dikarenakan
berkurangnya rasio insulin pada sirkulasi darah yang diakibat hilangnya sel
beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. IDDM bisa diderita
oleh anak-anak ataupun orang dewasa.
Saat ini IDDM (
insulin-dependent diabetes mellitus ) belum
bisa dicegah dan tidak bias disembuhkan, bahkan dengan diet atau olah raga.
Umumnya pada penderita diabetes tipe 1 mempunyai kesehatan serta berat badan
yang cukup baik pada saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu,
sensitivitas maupun respons pada tubuh terhadap insulin pada umumnya normal
pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awalnya.
Pada umumnya penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta diabetes tipe 1 yaitu
pada kesalahan reaksi autoimunitas yang bias menghancurkan sel beta pankreas.
Reaksi autoimunitas ini dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.
Diabetes tipe 1 ini hanya bias diobati
dengan insulin dan pengawasan yang cukup teliti ditingkat glukosa darah dengan melalui
alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1 ini, bahkan
untuk tahap paling awalpun, yaitu penggantian insulin. Tanpa menggunakan insulin, ketosis dan diabetic ketoacidosis dapat
menyebabkan koma bahkan dapat berakibat
kematian. Penekanan juga bias diberikan pada penyesuaian gaya hidup /diet dan olahraga. Terlepas dari
pemberian injeksi juga dimungkinkan pemberian insulin melalui pump, yang berkemungkinan
untuk pemberian masukan insulin 24 jam dalalm sehari di tingkat dosis yang
telah ditentukan, juga dimungkinkan pemberian dosis dari insulin yang
dibutuhkan disaat makan
Pada perawatan diabetes tipe 1 harus berlanjut terus.dan tidak akan berpengaruh terhadap aktivitas-aktivitas
normal apabila kesadaran yang cukup, perawatan yang tepat, dan kedisiplinan
dalam pemeriksaan dan pengobatan yang dijalankan. Tingkat Glukosa rata-rata pada
pasien diabetes tipe 1 harus mendekati ke angka normal (80-120 mg/dl, 4-6
mmol/l). Beberapa dokter menyarankan sampai ke 140-150 mg/dl (7-7.5 mmol/l)
untuk penderita yang bermasalah pada angka yang rendah, seperti "frequent
hypoglycemic events" Angka di atas 200 mg/dl (10 mmol/l) seringkali
diikuti dengan rasa tidak nyaman dan buang air kecil yang terlalu sering
sehingga menyebabkan dehidrasi. Angka di atas 300 mg/dl (15 mmol/l) biasanya
membutuhkan perawatan secepatnya dan dapat mengarah ke ketoasidosis. Tingkat
glukosa darah yang rendah, yang disebut hipoglisemia, dapat menyebabkan
kehilangan kesadaran pada penderita diabetes melitus.
Diabetes mellitus tipe 2
Diabetes mellitus tipe 2 (adult-onset
diabetes, obesity-related diabetes, non-insulin-dependent diabetes mellitus,
NIDDM) adalah tipe diabetes mellitus yang terjadi bukan disebabkan
oleh rasio insulin di dalam sirkulasi darah penderita, melainkan merupakan
kelainan metabolisme yang disebabkan oleh mutasi banyak gen, termasuk yang
mengekspresikan disfungsi sel β, gangguan sekresi hormon insulin, resistansi
sel terhadap insulin yang disebabkan oleh disfungsi GLUT10 dengan
kofaktor hormon resistin yang menyebabkan sel jaringan, terutama hati menjadi
kurang peka pada insulin serta RBP4 yang menekan penyerapan pada glukosa
oleh otot lurik namun bias meningkatkan
sekresi gula darah oleh hati.Mutasi gen tersebut juga sering terjadi pada kromosom
19 yang merupakan kromosom terpadat yang ditemukan pada manusia.
Pada NIDDM (non-insulin-dependent
diabetes mellitus) ditemukan ekspresi SGLT1 tinggi, rasio RBP4 dan
hormon resistin yang tinggi,peningkatan laju metabolisme glikogenolisis dan glukoneogenesis
hati, penurunan laju reaksi oksidasi dan peningkatan laju reaksi esterifikasi
hati.
NIDDM (non-insulin-dependent
diabetes mellitus)juga bias disebabkan oleh dislipidemia, lipodistrofi,dan
sindrom resistansi insulin.
Pada tahap awal kelainan yang muncul berkurangnya sensitifitas pada insulin,
dan ditandai meningkatnya kadar insulin darah.Hiperglisemia bias diatasi melalui
obat anti diabetes yang juga bisa meningkatkan sensitifitas pada insulin atau
mengurangi produksi glukosa dari hepar, akan tetapi semakin parah penyakit,
sekresi insulin pun menjadi berkurang, dan terapi dengan insulin kadang
dibutuhkan. Ada beberapa teori menyebutkan penyebab dan mekanisme terjadinya
resistensi, akantetapi obesitas sentral diketahui sebagai faktor predisposisi yang
membuat terjadinya resistensi pada insulin, dalam kaitannya dengan pengeluaran
dari adipokines merusak toleransi glukosa.Obesitas ditemukan 90% dari pasien
dunia dikembangkan diagnosis dengan jenis 2 kencing manis.Faktor lain yang meliputi
mengeram dan sejarah keluarga, walaupun pada dekade terakhir terus meningkat
mulai memengaruhi anak remaja dan anak-anak.
Diabetes tipe 2 juga bias terjadi dengan tanpa ada gejala sebelum hasil
diagnosis. Diabetes tipe 2 biasanya, pada awalnya, bias diobati dengan
perubahan aktivitas fisik (olahraga), diet (umumnya pengurangan asupan karbohidrat),
dan juga bias lewat pengurangan berat
badan. Ini biasa memugarkan kembali kepekaan hormon insulin, bahkan ketika
kerugian berat/beban adalah rendah hati contohnya, di sekitar 5 kg ( 10 sampai
15 lb), paling terutama ketika itu ada di deposito abdominal yang gemuk.
Langkah yang berikutnya, jika perlu,, perawatan dengan lisan antidiabetic drugs. Ketika produksi hormon
insulin adalah pengobatan pada awalnya tidak terhalang, lisan kaleng tetap digunakan untuk meningkatkan
produksi hormon insulin dan mengatur pelepasan yang tidak sesuai tentang
glukosa oleh hati dan menipis pembalasan hormon insulin sampai taraf tertentu
dan hakekatnya menipis pembalasan hormon insulin. Jika gagal, ilmu pengobatan
hormon insulin akan jadilah diperlukan untuk memelihara normal atau dekat
tingkatan glukosa yang normal. Suatu cara hidup yang tertib tentang cek glukosa
darah direkomendasikan di banyak kasus terutama penderita diabetes melitus.
Diabetes mellitus tipe 3
Diabetes mellitus gestasional (gestational diabetes, insulin-resistant type 1 diabetes, double diabetes,
type 2 diabetes which has progressed to require injected insulin, latent
autoimmune diabetes of adults, type 1.5" diabetes, type 3 diabetes, LADA)
atau diabetes melitus yang terjadi selama kehamilan dan akan pulih lagi setelah
melahirkan, dengan keterlibatan interleukin-6 dan protein reaktif C pada lintasan
patogenesisnya. GDM (Gestational diabetes mellitus) mungkin dapat merusak kesehatan janin atau ibu, dan sekitar
20–50% dari wanita penderita GDM ( Gestational diabetes mellitus) bertahan hidup.
Diabetes melitus pada kehamilan terjadi pada sekitar 2–5% dari semua
kehamilan. GDM ( Gestational diabetes mellitus) yang bersifat temporer dan bisa meningkat serta menghilang
setelah melahirkan. GDM ( Gestational diabetes mellitus) bisa disembuhkan, namun memerlukan pengawasan medis
yang cukup cermat selama masa kehamilan.
Meskipun GDM ( Gestational diabetes mellitus) bersifat sementara, bila tidak ditangani dengan baik bias membahayakan
kesehatan janin maupun ibu. Resiko dapat dialami oleh bayi meliputi makrosomia
(berat bayi yang tinggi/diatas normal), penyakit jantung bawaan dan kelainan
sistem saraf pusat, dan cacat otot rangka. Peningkatan hormon insulin janin bisa
menghambat produksi surfaktan janin yang mengakibatkan sindrom gangguan pernapasan.
Hyperbilirubinemia dapat terjadi akibat kerusakan sel darah merah. Pada kasus
yang parah, dan kematian sebelum kelahiran juga bias terjadi, paling umum terjadi sebagai akibat
dari perfusi plasenta yang buruk karena kerusakan vaskular. Induksi kehamilan bisa
diindikasikan dengan menurunnya fungsi plasenta. Operasi sesar dapat akan
dilakukan bila ada tanda bahwa janin dalam bahaya atau peningkatan resiko luka
yang berhubungan dengan makrosomia, seperti distosia bahu, ini lah yang paling berbahaya bagi penderita diabetes melitus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar