INFO BISNIS :

Rabu, 21 Maret 2012

Faktor Resiko Ulkus Diabetikum ( Penyakit Diabetes Melitus )


Faktor resiko terjadinya Ulkus Diabetikum pada penderita Diabetes Mellitus 

(menurut Lipsky dikutip oleh Riyanto B)

1. Faktor resiko yang tidak dapat diubah umur > 60 tahun, lama menderita Diabetes Melitus> 10 tahun.
2.       Faktor resiko yang dapat diubah :
       Neuropati (Sensorik, motorik, perifer), hipertensi, glikolisis hemoglobin (HBA1C) tidak terkontrol, kolesterol total, hdl dan trigliserida tidak terkontrol, kurangnya aktifitas fisik, pengobatan tidak teratur, perawatan kaki  pada penderita diabetes melitus tidak teratur, penggunaan alas kaki tidak tepat, obesitas, Ketidakteraturan kontrol gula darah, kebiasaan merokok, ketidakpatuhan diet Diabete Mellitus (Riyanto B, 2007).
        Faktor-faktor resiko terjadinya ulkus diabetikum lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut :
A.     Obesitas
       Salah satu permasalahan global dalam dunia kesehatan saat ini terutama pada diabetes melitus adalah permasalahan kelebihan berat badan dan kegemukan. Kelebihan berat badan (overweight) merupakan suatu keadaan terjadinya penimbunan lemak secara berlebihan, yang menyebabkan kenaikan berat badan (Sudarmoko, A, 2010 : 17).
       Lantas cara untuk mengidentifikasi kegemukan pada seseorang dengan menggunakan  IMT (Indeks Masa Tubuh), yaitu dengan kategori : Sangat kurus : < 17, Kurus sedang : 17-18, Normal : 18-25, Gemuk : 26-30, Sangat gemuk : > 30. Kelebihan berat badan hingga kegemukan jelas sangat beresiko bagi kesehatan dan memperbesar timbulnya penyakit, terutama sekali pada penderita diabetes melitus  kelebihan berat badan membuat tubuh rentan penyakit karena lemak yang mengumpul telah menghambat peredarah darah dan asupan gizi yang diperlukan tubuh. Fakta menunjukkan bahwa orang yang gemuk lebih mudah terserang penyakit ( terutama diabetes melitus )dan angka kematian yang tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak gemuk      (Arief. S, 2010 : 18).
       Ada dugaan bahwa seseorang yang memiliki badan gemuk ( penderita diabetes melitus ) jaringan adiposa mengeluarkan zat yang mengganggu kerja insulin pada jaringan otot rangka dan hati. Zat asam lemak bebas plasma diduga kuat menyebabkan resistensi insulin pada otot rangka dan hati secara langsung (Triyanto, B, 2011 : 60).  Apabila kadar insulin melebihi 10 µU/ml, keadaan ini menunjukkan hiperinsulinmia yang dapat menyebabkan aterosklerosis yang berdampak pada vaskulopati, sehingga terjadi gangguan sirkulasi darah sedang/besar pada tungkai yang menyebabkan tungkai akan mudah terjadi ulkus/ganggren diabetikum  / penyakit diabetes melitus (Soegondo S, 2006). 
       Menurut penelitian  yang dilakukan oleh Wirakusumah yang dikutip oleh Arief Sudarmoko, dimana hasil penelitiannya pada penyakit diabetes melitus menunjukkan bahwa dari 500 penderita obesitas, sekitar 88 % mendapat resiko penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, bahkan terjadinya komplikasi diabetes seperti Ulkus diabetikum (Sudarmoko, A, 2010 : 19).

B.     Ketidakteraturan kontrol gula darah
       Kontrol/check-up kadar gula darah merupakan suatu cara untuk mencegah terjadinya penyakit Diabetes mellitus yang makin bertambah parah, terutama untuk umur > 40 tahun, dan untuk penderita Diabetes Mellitus yang mengidap penyakit kardiovaskuler, lakukan check-up setiap 1, 2, 3 bulan (Misnadiarly, 2006 : 34).
       Cek gula darah perlu dilakukan oleh mereka yang memiliki faktor resiko diabetes, pemeriksaan harus rutin 1 kali seminggu/bulan. Peningkatan kadar gula darah bisa juga terjadi karena mereka yang menjalankan gaya hidup yang kurang baik dan pola makan buruk sehingga kadar gula darah mereka tidak terkontrol (Budi T, 2011:8). Penelitian yang dilakukan oleh Naimatus sya’diyah. Yang dilakukan di Wilayah Sorosutan Umbulharjo Yogyakarta, dimana sebagian pasien Diabetes Melitus tipe 2 yang bertempat tinggal di Wilayah sorosutan Umbulharjo Yogyakarta tidak patuh dalam upaya pengendalian kadar gula darah dan memiliki kadar gula darah yang tidak terkendali dan memiliki resiko terjadinya ulkus diabetikum / penyakit diabetes melitus (Naimatus, 2009).

C.     Kebiasaan Merokok
        Kebiasaan merokok akibat dari nikotin yang terkandung di dalam rokok akan dapat menyebabkan kerusakan endotel kemudian terjadi penempelan dan agregasi trombosit yang selanjutnya terjadi kebocoran sehingga lipoprotein lipase akan memperlambat clearance lemak darah dan mempermudah timbulnya aterosklerosis. Aterosklerosis berakibat insufisiensi vaskuler sehingga aliran darah ke arteri dorsalis pedis, poplitea, dan tibialis juga akan menurun sehingga bias menyebabkan resiko terjadinya ulkus diabetikum / penyakit diabetes melitus (WHO, 2001)

D.     Ketidakpatuhan diet DM ( Diabetes Melitus )
        Kepatuhan Diet Diabetes Melitus merupakan upaya yang sangat penting dalam pengendalian kadar glukosa darah, kolesterol, dan trigliserida mendekati normal sehingga dapat mencegah komplikasi kronik, seperti ulkus diabetika (Perkeni, 2006).
       Kepatuhan Diet DM ( Diabetes Melitus ) mempunyai fungsi yang sangat penting yaitu mempertahankan berat badan normal, menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik, menurunkan kadar glukosa darah, memperbaiki profil lipid, meningkatkan sensitivitas reseptor insulin dan memperbaiki system koagulasi darah.
        Sebuah studi baru yang dilakukan para periset Harvard yang dikutip oleh budi triyanto, menunjukkan bahwa orang yang makan satu saji (3,5 ons) daging olahan, sama dengan 2 iris bacon atau sebuah hot dog setiap hari, mengalami peningkatan resiko diabetes melitus tipe 2 sebanyak 51 persen dan bisa menyebabkan terjadinya ulkus diabetikum / penyakit diabetes melitus.


 Faktor resiko yang menyebabkan Ulkus pada kaki penderita DM ( Diabetes Melitus ) 
(menurut A.Y. Sutedjo)
       Kegemukan dan usia lanjut, gangguan penglihatan yang beresiko untuk cidera, kurang pengendalian kadar gula darah, penggunaan sepatu dan kaos yang tidak tepat, kurangnya perawatan kaki dan kuku yang baik, sudah ada riwayat ulkus pada kaki sebelumnya, tingkat pengetahuan DM  ( Diabetes  Melitus ) kurang sehingga kepatuhan kurang (A.Y.Sutedjo, 2010 : 85).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar